Dua tahun belakangan yang menjadi driver IHSG adalah saham-saham komoditas yang memang terkerek oleh naiknya harga-harga komoditas. Kenaikan harga komoditas adalah akhir dari suatu siklus ekonomi yang akan memicu inflasi tinggi. Jadi kenaikan IHSG selama ini yang didorong saham-saham komoditas sebenarnya tidaklah sehat karena kenaikan harga komoditas menyusahkan sektor-sektor ekonomi lainnya.
Pecahnya bubble di komoditas-komoditas utama seperti minyak, bahan pangan, dan emas
semoga mengakhiri penderitaan rakyat dan sektor-sektor ekonomi lainnya. Inflasi Maret 2008 yang 0.95% semoga menjadi euforia terakhir kenaikan harga-harga.
Sekarang terjadi perpindahan portofolio dari fund-fund manager dari komoditas(dan saham komoditas) ke saham-saham non-komoditas. Perpindahannya kadang terlihat sangat kasar dan memakan korban investor retail. Investor retail adalah sasaran empuk karena dengan keterbatasannya mereka akan average down saham-saham komoditas mereka yang banyak mereka beli di harga atas. Semakin banyak investor retail average down semakin banyak pula smart money yang jualan.
Mengawali siklus ekonomi yang baru, ke depannya kenaikan IHSG akan lebih sehat karena drivernya bukan lagi saham-saham komoditas. Kita akan menemui euforia komoditas lagi di akhir siklus nanti. Semoga di euforia komoditas selanjutnya Pemerintah RI dan rakyat lebih siap seperti yang dilakukan negara-negara maju.
Selamat tinggal saham-saham komoditas! Sampai ketemu di siklus selanjutnya!
Selamat datang saham-saham telekomonikasi, banking, infrastructure!