Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Kamis, 12 Juni 2008

Pembangkit Listrik Tenaga Manusia (PLTM)

Ini bukan ide saya tetapi ide dari salah satu teman saya. Seperti yang kita tahu di Indonesia yang tercinta ini banyak sekali pengangguran. Salah satu solusi instant untuk mengurangi pengangguran dan memperbaiki daya beli adalah dengan proyek padat karya.

Proyek padat karya selama ini boleh dikatakan benar-benar proyek sosial karena kurang menghasilkan nilai tambah bagi pembangunan. Trotoar yang sudah jadi dihancurin lagi lalu dibikin trotoar baru lagi. Begitu pula dengan proyek-proyek lain.

Solusi dari teman saya ini boleh dikatakan sangat inovatif yaitu proyek Pembangkit Listrik Tenaga Manusia (PLTM). Semua pengangguran atau pun sukarelawan yang berminat dikumpulkan dan diberi pekerjaan mengayuh pedal (seperti mengayuh sepeda). Putaran pedal yang digenjot oleh manusia-manusia ini dihubungkan dengan turbin generator sehingga menghasilkan listrik. Genjotan-genjotan pedal dari berjuta-juta manusia ini tentu akan menghasilkan daya listrik yang sangat besar sehingga paling tidak bisa untuk memenuhi kebutuhan listrik di daerahnya masing-masing.

Begitu mendengar ide ini saya langsung teringat sepeda onta tempo dulu. Genjotan pedal pada sepeda onta memutar roda sekaligus dinamo sehingga dapat menghasilkan listrik. Listrik yang dihasilkan digunakan untuk menyalakan lampu sepeda.

Sedikitnya ada 7 keuntungan dari PLTM ini:
  1. Mengurangi pengangguran (akan banyak orang dengan status pekerjaan baru yaitu pengayuh pedal)
  2. Menghemat bahan bakar fosil yang tidak terbarukan dan mahal
  3. Mengayuh pedal membuat jiwa dan raga sehat. Pepatah bilang "Di dalam badan yang sehat terdapat jiwa yang sehat"
  4. Mengurangi ketergantungan terhadap batubara dan solar
  5. Mengurangi subsidi listrik
  6. Mengurangi polusi. Seperti yang kita ketahui pembangkit listrik konvensional dengan solar dan batubara menghasilkan polusi yang sangat banyak. Dengan berkurangnya polusi diharapkan efek global warming bisa dikurangi
  7. Menambah pasokan listrik sehingga mengurangi risiko pemadaman bergilir

Apakah ide ini masuk akal? Biasanya orang yang inovatif banyak ditentang walaupun pasti ada yang mendukung. Dunia bisa maju berkat pemikiran orang-orang inovatif seperti Galileo, Sir Isaac Newton, Thomas Alfa Edison, Albert Einstein, Soekarno, Muhammad Hatta, Mahatma Gandhi, Bill Gates, Muhammad Yunus, dll.


save our earth :peace: :x

Rabu, 04 Juni 2008

If Oil Gets Smacked Down, Equities Will Run. How about IDX?

Di forum-forum trader luar negeri sudah ramai membicarakan "jika harga minyak anjlok, maka saham akan ramai lagi". Saya setuju dengan pernyataan ini. Di bursa saham luar negeri tentunya.

Ada pertanyaan dari saya yang newbie:

1. Apa efeknya bagi Bursa Efek Indonesia?
2. Bukannya BEI selama bullish akhir-akhir ini dimotori oleh saham-saham komoditas yang terkait erat dengan kenaikan harga minyak. Lalu bagaimana dengan nasib saham-saham komoditas jika harga minyak anjlok?
3. Apakah sektor perbankan akan menjadi motor BEI selanjutnya di saat inflasi menghantui?
Ataukah inflasi ternyata tak separah yang dibayangkan?
4. Apakah sektor telekomunikasi akan menjadi motor BEI di saat persaingan antar operator telepon semakin ketat?
5. Apakah saham-saham property yang NAVnya jauh diatas nilai pasar tetapi earning-nya payah akan ramai?

Dari pada pusing memikirkan pertanyaan-pertanyaan ini lebih baik belajar membaca chart dengan baik dan benar. Katanya orang-orang pintar chart sudah merefleksikan semuanya. Tetapi lebih pintar lagi orang yang bisa memprediksi sektor mana yang akan menjadi motor IHSG ke depan.

Waktu komoditas bullish TINS dari Rp1000an menjadi di atas Rp30000an, BUMI dari Rp1000an jadi Rp7000an, begitu pula saham-saham berbasis komoditas lainnya. Selanjutnya apa dong? Kalau tahu jawabannya kita tinggal beli trus duduk manis nonton orang ribut di milis/forum saham. Sayangnya tidak gampang untuk mencari jawabannya. Tapi pasti bisa dicari. Jangan tanya saya ya!!

Jumat, 30 Mei 2008

Kenichi Ohmae tentang Indonesia

Anda tahu Kenichi Ohmae? Dia yang menulis buku Borderless World. Saya belum baca tapi buku itu sangat terkenal dan katanya sangat futuristik. Baru-baru ini beliau berbicara tentang Indonesia. Ohmae mengatakan, "Indonesia, Berhentilah Mengeluh" Saya setuju sekali dengan pernyataan ini. Lebih lengkapnya baca artikel dari Padang Ekspress ini.

Jumat, 02 Mei 2008

Akhir dari euforia komoditas 2

Pada tanggal 1 April 2008 saya posting "Akhir dari euforia komoditas". Tampaknya hal ini akan jadi kenyataan. Orang sudah berekspektasi penurunan Fed Fund Rate kemarin adalah yang terakhir. Orang sudah beranggapan masalah yang akan kita hadapi bukan lagi "Credit Crunch" dan economy slowdown lagi, tetapi inflasi dianggap lebih penting.

Karena orang sudah berekspektasi Fed Fund Rate tidak akan turun lagi maka dollar akan cenderung menguat, emas sebagai inflation hedger akan turun, minyak juga turun, pasar saham ramai lagi. Dan yang paling penting untuk negara kita tercinta Indonesia, jika minyak turun maka APBN aman.

Selasa, 01 April 2008

Akhir dari Euforia Komoditas



Dua tahun belakangan yang menjadi driver IHSG adalah saham-saham komoditas yang memang terkerek oleh naiknya harga-harga komoditas. Kenaikan harga komoditas adalah akhir dari suatu siklus ekonomi yang akan memicu inflasi tinggi. Jadi kenaikan IHSG selama ini yang didorong saham-saham komoditas sebenarnya tidaklah sehat karena kenaikan harga komoditas menyusahkan sektor-sektor ekonomi lainnya.

Pecahnya bubble di komoditas-komoditas utama seperti minyak, bahan pangan, dan emas semoga mengakhiri penderitaan rakyat dan sektor-sektor ekonomi lainnya. Inflasi Maret 2008 yang 0.95% semoga menjadi euforia terakhir kenaikan harga-harga.

Sekarang terjadi perpindahan portofolio dari fund-fund manager dari komoditas(dan saham komoditas) ke saham-saham non-komoditas. Perpindahannya kadang terlihat sangat kasar dan memakan korban investor retail. Investor retail adalah sasaran empuk karena dengan keterbatasannya mereka akan average down saham-saham komoditas mereka yang banyak mereka beli di harga atas. Semakin banyak investor retail average down semakin banyak pula smart money yang jualan.

Mengawali siklus ekonomi yang baru, ke depannya kenaikan IHSG akan lebih sehat karena drivernya bukan lagi saham-saham komoditas. Kita akan menemui euforia komoditas lagi di akhir siklus nanti. Semoga di euforia komoditas selanjutnya Pemerintah RI dan rakyat lebih siap seperti yang dilakukan negara-negara maju.

Selamat tinggal saham-saham komoditas! Sampai ketemu di siklus selanjutnya!
Selamat datang saham-saham telekomonikasi, banking, infrastructure!

Selasa, 18 Maret 2008

Jika Ternyata Tidak Terlalu Parah

Pada Sabtu, 23 Februari 2008 saya menulis Resesi Paman Sam dan Bursa Saham. Di dalamnya saya menulis "Bursa saham juga selalu bereaksi berlebihan baik terhadap hal-hal yang positif maupun hal-hal yang negatif". Ketika ada suatu hal yang buruk terjadi dalam hal ini krisis Sub-Prime Mortgage membuat orang panik setengah mati. Hal yang seram menjadi sangat seram karena memang itulah karakteristik dari pasar keuangan yang selalu hiperbola.

Lalu apa yang akan terjadi jika hal yang sangat menyeramkan itu ternyata tidak seseram yang dibayangkan? Yang akan terjadi adalah perubahan dramatis psikologi pasar dari sangat takut menjadi sangat berani. Pasar akan berbalik arah dengan percaya diri.

Nah sekarang hal ini sudah mulai kelihatan. Lehman Brothers dan Goldman Sachs sudah melaporkan kinerja keuangan Q1 yang parah, tetapi tidak separah yang dibayangkan. Hasilnya WallStreet menjadi lebih percaya diri. Jika CitiGroup dan institusi keuangan lainnya di dunia seperti UBS, Credit Suisse, Mizuho, dll ternyata laporan keuangannya yang parah tidak separah yang dibayangkan maka Wallstreet dan bursa lain di seluruh dunia akan semakin percaya diri.


Minggu, 16 Maret 2008

Go Contrary

Kata beberapa ahli, emas sudah hampir di puncaknya. Dan memang jika orang sudah gembar-gembor mengajak beli emas biasanya tandanya bandar emas memang mau jualan. Jika memang emas sudah hampir puncak dengan logika terbalik inflasi juga hampir di puncak, minyak sudah hampir di puncak, dollar sudah di hampir bottom, resesi amerika sudah hampir selesai, bear market di wallstreet sudah hampir selesai, kepanikan di bursa saham dunia (termasuk BEI) sudah hampir selesei.

Saya tidak berbicara 5 atau 10 tahun yg akan datang karena mungkin harga emas di tahun itu sudah USD 2000/troy ons atau minyak sudah lebih dari USD 200/barrel. Sulit untuk memprediksi sampai sejauh itu. Tapi untuk jangka waktu lebih pendek saya lebih percaya emas dan minyak sudah mendekati puncak.

Sabtu, 23 Februari 2008

Resesi Paman Sam dan Bursa Saham


klik gambar untuk memperbesar

Bursa saham bersifat men-discount informasi dan ekspektasi di masa depan ke masa sekarang. Jika ekonomi ekspansi bursa saham akan ekspansi lebih dulu, jika ekonomi kontraksi/resesi bursa saham akan rontok lebih dulu. Bursa saham juga selalu bereaksi berlebihan baik terhadap hal-hal yang positif maupun hal-hal yang negatif. Oleh karenanya bursa saham dan pasar keuangan lainnya sangat volatile.
Index Dow Jones Industrial Average (DJIA) yang saya tampilkan cukup mewakili bursa saham Amerika karena berisi 30 perusahaan besar dari berbagai industri. Nah sekarang Amerika sedang resesi dan bursa saham juga sudah rontok. Selanjutnya apakah bursa saham akan naik lebih dulu seperti biasanya? Atau akan semakin rontok? Sepertinya sekarang adalah masa transisi dari bearish ke bullish. Bursa saham akan zig-zag dan cukup liar, tapi tidak akan lebih rendah dari level terendah januari lalu (semoga). Tarian mabuk Wall Street cukup membuat bursa-bursa lain di dunia sakit perut, bahkan muntah-muntah.
Indonesia memang tidak terkena dampak langsung dari krisis Sub-Prime Mortgage. Institusi-institusi keuangan di Indonesia tidak ada yang ikut membeli instrumen seperti itu karena memang tidak diijinkan oleh pemerintah RI. Berbeda dengan negara-negara lain seperti negara-negara Eropa, Jepang, China, dll. mereka mengijinkan institusi keuangan di negaranya membeli instrumen Sub-Prime Mortgage sehingga mereka terkena dampak langsung dari krisis ini. Bahkan Northern Rock Bank di Inggris sampai harus dinasionalisasi oleh pemerintah Inggris karena sudah nyaris bangkrut. Bank-bank besar di Amerika seperti Merryl Lynch, Morgan Stanley, Citigroup juga sampai harus disuntik dana dari Timur Tengah, China, dan Singapura sehingga dominasi Asia di Amerika semakin meningkat.
Tapi mengapa Bursa Efek Indonesia juga ikut crash pada waktu Wall Street crash? Selain faktor-faktor irasional yang mempengaruhi, faktor dana-dana asing yang parkir di Indonesia juga berpengaruh. Memang perlahan-lahan pemain lokal semakin mendominasi seiring semakin memasyarakatnya pasar modal, tetapi peran asing juga masih besar. Fund-fund asing menanamkan modalnya di berbagai negara dan instrumen. Jika salah satu investasi mereka ada yang rugi cukup parah tentunya mereka akan menambal kerugian mereka sehingga mereka perlu menata ulang portofolio investasi mereka termasuk di Indonesia.
Tapi sepertinya fund-fund asing sudah mulai kembali masuk ke Indonesia lagi. Saham-saham Indonesia masih menjadi pilihan menarik karena tidak terkena dampak langsung Sub-Prime Mortgage. Selain itu IHSG ditopang oleh saham-saham berbasis komoditas yang sangat diuntungkan oleh naiknya harga-harga komoditas. Semoga badai ini cepat berlalu, namun selalu ada badai-badai lainnya di masa depan karena perekonomian memang selalu bergerak menurut siklusnya.