
klik gambar untuk memperbesar
Bursa saham bersifat men-discount informasi dan ekspektasi di masa depan ke masa sekarang. Jika ekonomi ekspansi bursa saham akan ekspansi lebih dulu, jika ekonomi kontraksi/resesi bursa saham akan rontok lebih dulu. Bursa saham juga selalu bereaksi berlebihan baik terhadap hal-hal yang positif maupun hal-hal yang negatif. Oleh karenanya bursa saham dan pasar keuangan lainnya sangat volatile.
Index Dow Jones Industrial Average (DJIA) yang saya tampilkan cukup mewakili bursa saham Amerika karena berisi 30 perusahaan besar dari berbagai industri. Nah sekarang Amerika sedang resesi dan bursa saham juga sudah rontok. Selanjutnya apakah bursa saham akan naik lebih dulu seperti biasanya? Atau akan semakin rontok? Sepertinya sekarang adalah masa transisi dari bearish ke bullish. Bursa saham akan zig-zag dan cukup liar, tapi tidak akan lebih rendah dari level terendah januari lalu (semoga). Tarian mabuk Wall Street cukup membuat bursa-bursa lain di dunia sakit perut, bahkan muntah-muntah.
Indonesia memang tidak terkena dampak langsung dari krisis Sub-Prime Mortgage. Institusi-institusi keuangan di Indonesia tidak ada yang ikut membeli instrumen seperti itu karena memang tidak diijinkan oleh pemerintah RI. Berbeda dengan negara-negara lain seperti negara-negara Eropa, Jepang, China, dll. mereka mengijinkan institusi keuangan di negaranya membeli instrumen Sub-Prime Mortgage sehingga mereka terkena dampak langsung dari krisis ini. Bahkan Northern Rock Bank di Inggris sampai harus dinasionalisasi oleh pemerintah Inggris karena sudah nyaris bangkrut. Bank-bank besar di Amerika seperti Merryl Lynch, Morgan Stanley, Citigroup juga sampai harus disuntik dana dari Timur Tengah, China, dan Singapura sehingga dominasi Asia di Amerika semakin meningkat.
Tapi mengapa Bursa Efek Indonesia juga ikut crash pada waktu Wall Street crash? Selain faktor-faktor irasional yang mempengaruhi, faktor dana-dana asing yang parkir di Indonesia juga berpengaruh. Memang perlahan-lahan pemain lokal semakin mendominasi seiring semakin memasyarakatnya pasar modal, tetapi peran asing juga masih besar. Fund-fund asing menanamkan modalnya di berbagai negara dan instrumen. Jika salah satu investasi mereka ada yang rugi cukup parah tentunya mereka akan menambal kerugian mereka sehingga mereka perlu menata ulang portofolio investasi mereka termasuk di Indonesia.
Tapi sepertinya fund-fund asing sudah mulai kembali masuk ke Indonesia lagi. Saham-saham Indonesia masih menjadi pilihan menarik karena tidak terkena dampak langsung Sub-Prime Mortgage. Selain itu IHSG ditopang oleh saham-saham berbasis komoditas yang sangat diuntungkan oleh naiknya harga-harga komoditas. Semoga badai ini cepat berlalu, namun selalu ada badai-badai lainnya di masa depan karena perekonomian memang selalu bergerak menurut siklusnya.



